Banyak orang yang saat ini mangajarkan ketidak jujuran pada generasi muda. Generasi bangsa, saat ini terus menerus belajar tentang ketidak jujuran. Padahal pendidikan moral, akhlak di sekolah terus diajarkan. Apakah pihak sekolah yang harus disalahkan, karena anaknya berkata tidak jujur.
Seorang ibu merasa kaget, ketika anaknya berkata tidak jujur. Padahal seingatnya, ia tidakpernah mengajari ketidak jujuran pada anaknya. Sengaja atau tidak sengaja, kebanyakan ibu selalu menyalahkan guru didiknya di sekolah, lingkungan anaknya bermain dan teman-teman yang slalu bergaul dengan anaknya.
Belum sadarkah kita, secara tidak langsung, banyak para orang tua menagjarkan anaknya tentang ketidak jujuran pada anak-anaknya. Mari kita cermati tentang ilustrasi berikut ini.
Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 WIB, waktunya kelas 1 SMP daftar ulang, guru-guru di SMP tersebut memperbincangkan para wali murid yang datang ke sekolah tidak satu pun mereka menggunakan kendaraan pribadi. Kebanyakan mereka berbondong-bondong menggunakan angkutan umum. Mungkin sudah kebiasaan tiap tahunnya, jadi mereka menjadi hafal. Mungkin terlihat biasa menurut kita, kenapa harus diperbincangkan, itu semua urusan mereka mau pakai angkutan umum atau kendaraan pribadi.
Namun menjadi hal yang luar biasa bagi guru-guru tersebut. Saat pihak sekolah memberikan harga DPP sekolah, banyak wali murid yang merasa keberatan dengan nominal yang telah ditetapkan dan mereka rata-rata minta keringanan biaya sekolah. Mereka pun tidak malu untuk meminta surat keterangan dari pihak RT/RW tantang surat keterangan miskin.
Astagfirullah, nikmat manakah yang kamu dustakan? Ya, inilah realita di masyarakat kita, ketika waktu antar jemput sekolah mereka menggunakan mobil pribadi, sepeda motor pribadi, hitungan jari yang menggunakan angkutan umum. Para orang tua secara tidak langsung mengajari anak-anaknya tentang “KEBOHONGAN”. Ya, kebohongan besar yang akan berdampak pada kualitas pendidikan anaknya sendiri. Mereka belajar bohong dari orang tuanya, dan orang tuanya menceritakan pengalaman buruknya pada aorang lain dengan bangga. Saya ke sekolah anak saya, naik angkutan umum, biar DPP nya murah, nanti kalau pakai mobil bisa bayar mahal. Seandainya bayar DPP semurah cicilan sepeda motor, mungkin tidak ada orang yang berbuat bohong.
Bayar DPP mahal tidak masalah, asalkan benar-benar untuk kepentingan pendidikan. Uang itu akan menajdi ladang amal bagi para orang tua, karena uangnya bermanfaat untuk pendidikan.
Wallahu alam bi shoab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar