Selasa, 09 Februari 2010

HAK ASASI INTERNASIONAL TOLAK PELARANGAN CADAR DI PRANCIS

PRANCIS- Pemantau Hak Asasi Internasional (Human Right Watch), menuding usaha pemerintah Prancis untuk melarang burqa adalah tindakan melanggar hak asasi muslimah di Prancis.
Selain itu, tindakan ini juga dapat membuat stigma buruk seluruh minoritas Muslim di negara menara Eifel tersebut.
Parlemen Prnacis lalu merekomendasikan pelarangan penggunaan burqa di sejumlah tempat seperti rumah sakit, sekolah transportasi public dan kantor pemerintahan. Prancis telah memunculkan debat yang panas seputar burqa atau cadar sejak Presiden Nicolas Sarkozy mengatakan bulan Juni lalu bahwa burqa tidak bisa diterima di Eropa.
Menurut perkiraan departemen dalam negeri Prancis dari 7 Juta umat Islam di Prancis, terbesar di Eropa terdapat 1.900 muslimah Prancis yang memakai cadar. Pelarangan cadar ini menurut Judith Sunderland merupakan langkah keliru untuk merangkul minoritas Islam, justru menjauhkan mereka dari masyarakat. Karena tanpa memakai cadar mereka tidak bisa menjemput anaknya dari sekolah atau untuk berbicara kepada guru sang anak yang mungkin juga seorang wanita (muslimdaily). (Diambil dari Buletin Akbar Ummatan Wasathan Edisi: 55-01/UW/02/10)
Orang-orang di Eropa begitu takut dengan orang-orang muslim, jika mereka terus berkembang, mereka masih menganggap bahwa umat Islam adalah teroris, padahal yang lebih teroris itu siapa. Umat Islam ataukah mereka, Umat Islam hanya ingin membela hak-haknya sebagai Umat Islam. Di Afghanistan, Pakistan, Irak, mereka berperang untuk membela tanah airnya, bukan untuk berdakwah, memaksa orang lain untuk beragama Islam. Hidayah datangnya dari Allah SWT, bukan dengan pemaksaan, maka dari itu banyak sekali orang yang berpindah agama ke Agama Islam. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, agama yang melarang untuk menyakiti orang lain.
Orang Indonesia, menjadi kebakaran jenggot, ketika ada orang Kristen yang akan mendirikan gereja di daerah sekitarnya. Mereka berbondong-bondong mendemo agar gereja tidak didirikan di daerah sekitarnya, dengan alasan akan merusak aqidah orang muslim di sekitarnya.
Saya teringat dengan kisah mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah AR. Fachruddin, beliau begitu bijak, ketika menanggapi mahasiswa IMM di Yogyakarta yang kalah saingan dengan para misionaris untuk menarik para minat anak-anak kecil agar tetap berminat belajar mengaji. Pak AR. Fachruddin, menyarankan pada para aktivis, untuk membuat kegiatan yang menarik untuk anak-anak tersebut, alhasil kegiatan itu berhasil dilakukan karena di musholla itu dilengkapi denga perpustakan yang menarik minat baca para santri.
Hal inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan melakukan demo, tetapi melakukan aksi secara nyata. Kita tidak perlu berteriak-teriak, menghujat agama lain, karena khawatir dengan rusaknya aqidah umat Islam, tanpa adanya gereja pun terkadang aqidah pemuda Islam sudah banyak yang rusak. Kita dapat melihat pencuri, para koruptor, korban narkoba, paling banyak agama adalah agama Islam. Tantangan dakwah begitu banyak, tetapi kita berteriak-teriak tanpa aksi yang jelas.
Sudah saatnya, kita mengatur strategi dakwah kita, marilah kita berfastabiqul khoirot bersama-sama, tanpa harus menghujat agama lain. Hidayah datangnya dari Allah SWT, bukan berapa banyak kita berceramah. Selama kita sudah sering mengingatkan, tuntaslah kewajiban kita, selanjutnya terserah anda. Kita tidak perlu gelisah, umat Islam yang kebanyakan miskin berpindah agama, karena takut miskin. Saya jadi teringat dengan sejarah awal dakwah Nabi Muhammad SAW, kebanyakan yang mengikutinya adalah para budak, orang miskin. Mereka ikut Islam karena hidayah, bukan karena iming-iming kekayaan dunia, tetapi kebhagiaan dunia dan akhirat.
Janganlah bersedih, jika dakwah kita belum berhasil membuat orang lain bertaubat, Nabi Nuh as saja tidak bisa membuka hati anak dan istrinya untuk beriman kepada Allah SWT, apalagi kita yang tingkat ketaqwaannya masih jauh dari para nabi dan rasul. Oleh karena, itu, tetaplah berdakwah, tanpa harus menghujat agama lain.
Jika pemimpinnya orang yang beragama Islam, maka terjaminlah kehidupan orang yang tidak beragama Islam. Mereka dijamin keselamatannya, tetapi jika pemimpinnya bukan orang Islam, kita lihat di belahan bumi manapun selalu terjadi huru-hara. Bagaimana menurut anda???????????????????????
GUBERNURKU MUCIKARI

Ada berita menarik pada hari selasa, tanggal 9 Februari 2009 di Koran Harian Surya, saya sangat tertarik ketika membaca judulnya “Mucikari Ikut Pilgub”. Kristin Davis, begitulah namanya, dia mantan pelacur dan kini menjadi mucikarinya, dia ingin mencalonkan diri menjadi Gubernur New York. Semua orang pasti tau, dimana New York itu, yang pasti dibelahan bumi Benua Amerika.
Di tengah-tengah program kerjanya adalah akan melegalkan prostitusi dan ganja, karena menurutnya kedua sector itu bisa menghasilkan dana sebesar 2,5 miliar dolar Amerika kalau di rupiahkan menjadi 23,5 triliun yang bisa digunakan untuk menutupi deficit anggaran. Dia juga pendukung pernikahan sesama jenis dan memiliki senjata api sacara bebas. Dia juga menggunakan para pelacur sebagai Tim Suksesnya.
Indonesia adalah negara demokratis, yang terkadang hukumnya masih belum jelas. Jika berita ini ditanggapi oleh para pelacur di Indonesia apa jadinya ya?, apa juga reaksi MUI. Kalau reaksi anda sendiri bagaimana?. Kalau aku sih, agak ngeri juga, jika salah satu propionsi di Indonesia ini, dipimpin oleh pelacur. Pelacur di Indonesia, statusnya masih dianggap rendah oleh masyarakat, mereka juga yang paling banyak mengidap penyakit HIV AIDS setelah korban narkoba. Jadi apa jadinya, kalau ganja dan prostitusi dilegalkan, akankah menjadi propinsi tertinggi penderita HIV AIDS. Negara belahan manapun, berusaha memutar otak untuk menurunkan angka penderita HIV AIDS, ini malah meningkatkan.
Hmmmmmmm……… ada-ada saja, manusia ini………………………..

Minggu, 31 Januari 2010

CERITA RAKYAT
PETANI

Kehidupan petani seolah-olah identik dengan kemiskinan, padahal pertanian identik dengan sumber kemakmuran, tanpa pertanian, kita tidak bisa makan, maka bersyukurlah masih ada yang mau jadi petani. Banyak orang yang kaya dengan menjadi petani. Namun, saat ini yang berminat sekolah di fakultas pertanian sangat minim. Hal ini membuat masalah yang serius, karena 10 tahun atau 20 tahun lagi, tidak ada orang yang mau menjadi petani. Padahal kita butuh pangan, banyak orang yang menghina, jika anak-anaknya sekolah di pertanian, agar terlihat bergengsi, para petani menyekolahkan anaknya di jurusan selain pertanian.
Kita bisa melihat Negara Jepang, para ilmuwannya berfikir keras agar padi bisa tumbuh ditanah mereka, sementara kita yang tidak dituntut berfikir keras untuk menanam padi, malah beralih ke industri.
Jati diri Bangsa Indonesia sebagai negara agraris, dari tahun ke tahun semakin hilang, karena beras dan gula saja, kita impor. Banyak para petani menjual tanahnya, agar mereka bisa beralih profesi. Namun naas, setelah tanah terjual, anak cucunya malah terlantar.
Seharusnya para petani itu, memiliki wawasan yang luas agar tetap bertahan menjadi petani. Petani yang kaya, bukan petani miskin. Petani yang mau bereksperimen di tanahnya sendiri, berfikir keras untuk meningkatkan hasil panennya. Mereka seharusnya menyekolahkan anaknya di Fakultas Pertanian, bukan berarti ilmu lain tidak penting, tetapi ini adalah menyangkut kehidupan orang banyak. Pertanian yang menopang kehidupan, seluruh masyarakat Indonesia. Apakah kita akan mengimpor beras dari Jepang, sesuatu yang mungkin saja terjadi, tetapi akan menambah deretan hutang Bangsa Indonesia, kepada negara lain.
Bukan hanya pemerintah yang memikirkan hal ini, seharusnya petani yang menentukan harga jual hasil panennya, bukan para tengkulak, karena petani yang menanam. Jika petani tidak menanam, para tenggulak pun, tidak dapat menjual hasil panen sehingga mereka juga rugi. Petani dan tengkulak seharusnya menggunakan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, tidak ada yang dirugikan, selama ini pihak petani yang selalu dirugikan.
Petani yang cerdas, berwawasan luas, yang akan menguasai pasaran pertanian di Indonesia, bukan Cina, Thailand dan negara lainnya. Dengan memaksimalkan hasil pertanian yang ada di lahan dan memiliki kualitas tidak kalah dengan negara lain, maka petani Indonesia, tidak perlu khawatir dengan negara lain.
Jika saat ini, anda masih merasa dirugikan, maka segeralah berburu ilmu pertanian, agar hasil panen kita bisa maksimal dan memiliki harga jual yang tidak kalah dengan negara lain. Kejujuran di dalam kehidupan sangat penting, gunakanlah pupuk organik, jangan tergiur dengan pupuk kimia. Maksimalkan apa yang ada dilingkungan sekitar kita, seperti penggunaan pupuk kandang, dan masih banyak ilmu lainnya di alam ini yang belum terkuak. Berfikirlah selalu, agar kita bisa menemukan sesuatu yang berarti di dalam hidup kita.
MAJU TERUS PERTANIAN INDONESIA
SMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
CERITA RAKYAT
”ORANG MISKIN, INGIN KAYA”

Siapa yang mau hidup miskin terus menerus, tidak ada satu orang pun yang mau, kecuali orang-orrang yang mau mensyukuri hidupnya. Ingin kaya, tanpa usaha apapun, inilah kisah salah satu rakyat di suatu desa, terkesan lucu tetapi kasihan juga.
Sebut saja Paijo, ia tidak memiliki pekerjaan yang tetap alias tidak menentu, sehingga uang yang dimilikinya pun kembang kempis, tidak menentu. Suatu ketika ia berkeinginan membangun rumah ”gedheknya” menjadi rumah gedung berlantaikan keramik, pokoknya terkesan mewah, cita-cita hanyalah cita-cita, mungkin suatu saat bisa terwujud.
Setiap malam, tanpa sengaja ia melihat kegiatan rutin Pak Kades di desanya memberi minuman dan makanan ringan pada para hansip yang sedang melaksanakan tugasnya yaitu ronda malam, pintu rumah pak kades tidak pernah dikunci hanya ditutup saja, karena ia menganggap lingkungan sekitarnya tergolong aman.
Oleh karena kebiasaan Pak Kades terbaca oleh paijo, maka setan pun menghasutnya terus menerus untuk segera menerobos masuk rumah Pak Kades. Paijo teringat dengan cita-citanya yaitu memiliki rumah gedung. Akhirnya, dia memberanikan diri demi terwujudnya cita-cita paijo. Nyaris tanpa suara, semuanya terkesan rapi, karena dia tidak butuh usaha ekstra untuk melancarkan aksinya, karena rumah Pak Kades tidak terkunci.
Keesokan paginya, paijo langsung menuju pasir dan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membangun rumahnya, ia juga membeli sepeda motor. Warga pun, terheran-heran dengan keadaan paijo yang mendadak kaya.
Pagi itu, Pak Kades, panik karena 2 laptop, beserta tas berisi uang tunai dan HP tidak berada di tempatnya. Pak Kades pun, memutuskan melaporkan kejadian ini pada polisi setempat. Proses pelaporan ini, langsung ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian. Warga yang merasa heran dengan keadaan paijo, mereka pun curiga. Pihak kepolisian ke rumah Pak Kades, di sana ada warga yang melapor kejanggalan paijo.
Sepulang dari pasar, paijo langsung ditangkap oleh polisi, karena tindakannya tersebut. Namun sayang, Pak Kades tidak mendapati uangnya secara utuh, karena telah dibelanjakan oleh paijo.
Cerita rakyat yang terkesan lucu, karena mencuri langsung bisa diketahui pencurinya. Paijo, hanya salah satu rakyat yang bingung mencari pekerjaan, bisa dibilang ia ingin hidup normal, seperti orang lain yang memiliki sepeda motor dan rumah. Namun sayang, ia tidak memiliki pekerjaan, sehingga caranya untuk membahagiakan orang lain terutama keluarganya menempuh jalan yang salah, seharusnya Pak Kades tidak usah memperkarakannya di kepolisian. Pak Kades, harus memberi solusi, agar ia memiliki pekerjaan yang tetap dan bisa hidup normal dan tidak terjadi kesenjangan sosial di masyarakatnya. Penjara bukanlah penyelesaian yang bagus.
Inilah sepenggal cerita kehidupan rakyat, yang perlu kita cari solusinya secara bersama-sama, agar tidak ada lagi rakyat yang bunuh diri, mencuri, merampok, mengemis, mengamen, putus sekolah dan masih banyak kasus lainnya yang menyangkut kebahagiaan.
CERITA RAKYAT

BUNUH DIRI


Beragam cerita yang terjadi di masyarakat, di belahan bumi manapun pasti terdapat cerita rakyat. Selama ada kehidupan, dan pemain utamanya adalah manusia, maka pasti ada cerita di sana. Cerita bahagia, sedih, tragis, semuanya pasti ada. Kali ini, mari kita baca dan cermati cerita rakyat ini, kemudian simpulkan.
Pagi itu, aku duduk di ruang tamu sambil membaca koran, salah satu isi beritanya adalah bunuh diri. Kasus bunuh diri, sudah sering terjadi di masyarakat dengan berbagai latar belakang dan motif, ada yang karena cinta, hutang-piutang, penyakit, KDRT, kemiskinan, PHK, putus sekolah, harga diri, stress yang terus mendera dan masih banyak motif lainnya.
Saya pernah, membaca salah satu buku di perputakaan kota, di dalam buku itu menceritakan tentang kasus bunuh diri di salah satu daerah yaitu Gunung Kidul Yogyakarta, buku ini menarik perhatian saya. Saya memutuskan untuk membacanya, dengan harapan mendapat hikmah dari buku tersebut. Cerita bunuh diri di dalam buku itu, memiliki latar belakang yang hampir sama, yaitu penderitaan di dalam hidup.
Salah satu cerita yang masih saya ingat adalah, ada salah satu kasus dimana seorang wanita yang tanpa sadar berlari kencang menuju sumur tua, tetapi proses bunuh dirinya dapat digagalkan oleh suaminya. Wanita tersebut pingsan, setelah ia sadar, ia tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja ia alami, hanya tiba-tiba ia berlari sekencang-kencangnya dan seolah-olah ada yang merasuk di dalam jiwanya. Akhir dari cerita itu adalah, karena ia bosan hidup dalam kemiskinan secara terus menerus. Ia sering melamun, dan selalu berniat untuk mengakhiri hidupnya.
Kembali ke koran yang saya baca, berita tersebut menceritakan tentang seorang wanita paruh baya yang hidup sendiri di suatu desa tanpa sanak keluarga yang menemaninya, tanpa kegiatan yang bervariasi, kehidupannya monoton, sehingga ia merasa bosan untuk hidup dan putus asa yang terus mendera jiwanya.
Ia melakukan usaha bunuh diri tiga kali, bunuh diri yang pertama dan kedua dapat digagalkan oleh warga sekitar. Namun, usahanya yang ketiga tidak dapat digagalkan, karena sudah terlambat.
Hidup seorang diri tanpa aktifiitas memang membosankan apalagi hidup di desa. Oleh karena itu, agar hidup kita tidak terasa membosankan perbanyaklah kegiatan dan teman. Memperbanyak teman dan kegiatan adalah salah satu langkah untuk mengusir kebosanan di dalam menjalani hidup.beragam aktifitas dapat kita lakukan, terutama kegiatan yang dapat menyenangkan hati kita.
Kehidupan di desa memang terkesan monoton, tetapi bagaimana kita bisa menciptakan suasana yang tidak monoton. Hal inilah, yang dapat mempertegas bahwa pendidikan sangat penting di dalam kehidupan manusia. Jika, kita hidup di desa, dengan pendidikan yang memadai, kita dapat bereksperimen di tempat tinggal kita, misalnya melakukan penelitian tentang tumbuhan, bagaimana memaksimalkan panen tomat atau yang lainnya. Kita juga bisa melakukan kegiatan sosial, kegiatan sosial dapat menyenangkan hati kita dan hati orang lain.
Pendidikan agama juga memiliki peranan penting, dengan menjadi penganut agama yang taat, kita bisa meminimalkan rasa stress yang sedang mendera kita. Dengan pendidikan, wawasan kita menjadi luas dan tidak akan pernah mengambil jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan hidup.
Bunuh diri, di masyarakat mereka gunakan untuk mengakhiri pendiritaan hidupnya. Masih banyak rakyat yang menderita, karena kerasnya kehidupan. Namun, para pejabat berlomba-lomba memperkaya diri. Mereka kalah dengan hawa nafsunya, sehingga hati nuraninya telah tertutup rapat untuk mendengarkan dan menyelesaikan penderitaan rakyatnya. Tidak ada satu orang pun yang bisa adil, selain Allah SWT.

TIM SEPAK BOLA NASIONAL
(Akankah Rasa Nasionalisme itu Luntur?)

Begitu hebohnya permainan sepak bola hingga memiliki suporter yang begitu fanatik, apapun mereka lakukan demi melihat permainan bola tim kesayangannya. Begitu fanatiknya para suporter, sampai-sampai tawuran antar suporter pun sering tak terelakkan. Begitu fanatiknya para suporter sampai-sampai, mereka rela kelapran di kota orang demi melihat tim kesayangannya. Fanatik, kata-kata ini memberitahukan kepada kita tentang kecintaan seseorang pada sesuatu secara berlebihan. Begitu cintanya, sampai-sampai apapun mereka lakukan demi tercapainya suatu tujuan.
Perkembangan sepak bola saat ini, sungguh fantastis. Permaninannya selalu membuat semua orang terpesona. Mulai dari Tim Sepak Bola Eropa sampai Indonesia, mereka memiliki suporter masing-masing. Namun sayang seribu sayang, kelihatannya ada yang salah dengan Tim Sepak Bola Indonesia secara keseluruhan. Jika dilihat banyak pemain asing yang membela Tim Sepak Bola Indonesia, dari pada masyarakat pribumi. Apakah masyarakat pribumi, tidak ada yang bisa bermain sepak bola. Sudah habiskah, atlit-atlit sepak bola yang berbakat di negeri ini, sehingga mengharuskan mengadopsi pemain sepak bola dari luar negeri. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya, dari sekian ribu orang, tidak adakah yang berbakat bermain sepak bola?.
Kita hidup, di zaman globalisasi, zamannya pasar bebas, apapun bisa terjadi, termasuk mengadopsi pemain sepak bola dari luar negeri, tetapi bukan bearti, mengenyampingkan masyarakat Indonesia.
Hal ini, sama dengan kasus maraknya produk-produk cina yang membanjiri pasaran di Indonesia, kita memang tidak bisa menyalahkan siapapun, karena pemerintah terlanjur terikat kontrak untuk melakukan pasar bebas, tetapi jika ini tidak memprioritaskan hak masyarakat Indonesia, maka lama kelamaan sering dengan berjalannya waktu, masyarakat Indonesia akan terpinggirkan bahkan terbuang dari negerinya sendiri, seperti layaknya produk-produk dalam negeri yang tergusur oleh produk cina. Dari sini, kita akan tahu, bahwa pelaku industri bangkrut di dalam negerinya sendiri. Produk cina dan pemain asing sepak bola, memang tidak ada hubungannya, tetapi memberi gambaran yang nantinya pada kesimpulan yang sama.
Masyarakat Indonesia, lebih bangga dengan produk luar negeri daripada produk dalam negeri. Hal ini, mengindikasikan bahwa masih adakah rasa Nasionalisme yang tersisa di dalam hati sanubari yang paling dalam, terutama para pemudanya. Akankah, sumpah pemuda yang digelar pada tahun 1928 itu hanya akan menajdi bagian cerita belaka, semua pertanyaan ini, hanya kita yang bisa menjawabnya. Mau di bawa kemana bangsa kita selanjutnya, jika saat ini, sudah kita tanamkan untuk mencintai produk-produk luar negeri. Bangsa kita, akan terus terpuruk, jika tidak ada kesadaran yang besar dari masyarakatnya.
Masih ingatkah kita, pertandingan sepak bola antara Oman dan Indonesia yang menghasilkan kekecewaan di kandang sendiri, kekecewaan itulah yang memancing emosi para suporter, sehingga salah satu suporter turun ke lapangan dan menggiring bola untuk memasukkannya ke dalam gawang. Para suporter TIM SEPAK BOLA INDONESIA, semuanya pasti menelan pil pahit, karena kekalahan itu. Kejadian itu, menjadi adegan yang lucu sekaligus mengagetkan, andai saja ia memang TIM SBI, apa jadinya?. Skor 4-0, membuat para suporter benar-benar malu dan merasa sedih, tetapi kejadian ini, menyimpulkan bahwa masih ada kebanggaan terhadap Bangsa Indonesia. Maju terus Sepak Bola Indonesia. SMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
TIM SEPAK BOLA NASIONAL
(Akankah Rasa Nasionalisme itu Luntur?)

Begitu hebohnya permainan sepak bola hingga memiliki suporter yang begitu fanatik, apapun mereka lakukan demi melihat permainan bola tim kesayangannya. Begitu fanatiknya para suporter, sampai-sampai tawuran antar suporter pun sering tak terelakkan. Begitu fanatiknya para suporter sampai-sampai, mereka rela kelapran di kota orang demi melihat tim kesayangannya. Fanatik, kata-kata ini memberitahukan kepada kita tentang kecintaan seseorang pada sesuatu secara berlebihan. Begitu cintanya, sampai-sampai apapun mereka lakukan demi tercapainya suatu tujuan.
Perkembangan sepak bola saat ini, sungguh fantastis. Permaninannya selalu membuat semua orang terpesona. Mulai dari Tim Sepak Bola Eropa sampai Indonesia, mereka memiliki suporter masing-masing. Namun sayang seribu sayang, kelihatannya ada yang salah dengan Tim Sepak Bola Indonesia secara keseluruhan. Jika dilihat banyak pemain asing yang membela Tim Sepak Bola Indonesia, dari pada masyarakat pribumi. Apakah masyarakat pribumi, tidak ada yang bisa bermain sepak bola. Sudah habiskah, atlit-atlit sepak bola yang berbakat di negeri ini, sehingga mengharuskan mengadopsi pemain sepak bola dari luar negeri. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya, dari sekian ribu orang, tidak adakah yang berbakat bermain sepak bola?.
Kita hidup, di zaman globalisasi, zamannya pasar bebas, apapun bisa terjadi, termasuk mengadopsi pemain sepak bola dari luar negeri, tetapi bukan bearti, mengenyampingkan masyarakat Indonesia.
Hal ini, sama dengan kasus maraknya produk-produk cina yang membanjiri pasaran di Indonesia, kita memang tidak bisa menyalahkan siapapun, karena pemerintah terlanjur terikat kontrak untuk melakukan pasar bebas, tetapi jika ini tidak memprioritaskan hak masyarakat Indonesia, maka lama kelamaan sering dengan berjalannya waktu, masyarakat Indonesia akan terpinggirkan bahkan terbuang dari negerinya sendiri, seperti layaknya produk-produk dalam negeri yang tergusur oleh produk cina. Dari sini, kita akan tahu, bahwa pelaku industri bangkrut di dalam negerinya sendiri. Produk cina dan pemain asing sepak bola, memang tidak ada hubungannya, tetapi memberi gambaran yang nantinya pada kesimpulan yang sama.
Masyarakat Indonesia, lebih bangga dengan produk luar negeri daripada produk dalam negeri. Hal ini, mengindikasikan bahwa masih adakah rasa Nasionalisme yang tersisa di dalam hati sanubari yang paling dalam, terutama para pemudanya. Akankah, sumpah pemuda yang digelar pada tahun 1928 itu hanya akan menajdi bagian cerita belaka, semua pertanyaan ini, hanya kita yang bisa menjawabnya. Mau di bawa kemana bangsa kita selanjutnya, jika saat ini, sudah kita tanamkan untuk mencintai produk-produk luar negeri. Bangsa kita, akan terus terpuruk, jika tidak ada kesadaran yang besar dari masyarakatnya.
Masih ingatkah kita, pertandingan sepak bola antara Oman dan Indonesia yang menghasilkan kekecewaan di kandang sendiri, kekecewaan itulah yang memancing emosi para suporter, sehingga salah satu suporter turun ke lapangan dan menggiring bola untuk memasukkannya ke dalam gawang. Para suporter TIM SEPAK BOLA INDONESIA, semuanya pasti menelan pil pahit, karena kekalahan itu. Kejadian itu, menjadi adegan yang lucu sekaligus mengagetkan, andai saja ia memang TIM SBI, apa jadinya?. Skor 4-0, membuat para suporter benar-benar malu dan merasa sedih, tetapi kejadian ini, menyimpulkan bahwa masih ada kebanggaan terhadap Bangsa Indonesia. Maju terus Sepak Bola Indonesia. SMANGAT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!